Kamis, 07 Maret 2013

[2/?] Because I Love You


Title: Because I Love You 
Author: @MeydaaWK
 
 Cast: 
-Zhang Yi Xing (Lay)
-Lee Eun Woo (Hana P.A)
Rating: Teenager
Genre: Sad, Romance, Love Story
Length: Series xD
Author Note:
Annyeong~
Mian lama ngelanjutinnya -__-
sekrg ini bukan twoshoot tapi chaptered mungkin ._. 
langsung aja yaa ^^
Previous Chapter: Chapter One 

Check It Out!
Happy Reading~

_______________________

Setelah meletakkan sentuhan terakhir, aku langsung membungkus kue tar bewarna cerah itu ke dalam kardus khusus kue yang telah kusiapkan sebelumnya. Selesai. Semoga saja dia menyukai pestaku kali ini.
“Eun Woo-ya, kau mau kemana lagi? Bertemu dengan Lay?”
Yeah, entah kenapa, Yi Xing menolak dipanggil Yi Xing lagi dan menyuruh kami memanggilnya ‘Lay’. Aku tidak tahu kenapa. Tapi kuturuti saja.
“Nde, Ah Reum-ya. Apa kau mau ikut?” Tanyaku sambil memasukkan barang-barang yang akan kubawa ke dalam ransel mungilku.
“Aniya, aku tidak mau mengganggu pasangan baru.” Celetuknya sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian dia tertawa terkekeh.
“Dasar!” Seruku, melempar box tisu yang terbuat dari kertas. “Aku pergi~ Annyeong!”
Aku langsung menarik sepatu bot buluku, cepat-cepat memakainya dan langsung keluar rumah menuju halte. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus jurusan yang kutunggu sampai. Dengan semangat aku masuk dan menunjukkan kartu pasku, kemudian duduk di pojok. Kursi favoritku.

_________

Aku kembali melirik arloji putih di tangan kiriku. Sudah pukul lima sore, kemana Lay? Apa dia lupa tentang janji temu kami? Aku kembali mengembuskan napas panjang, uap putih keluar dari mulutku. Dingin.
Tidak, pasti Lay akan datang disini. Mungkin Seoul sedikit macet, atau dia sedikit lupa dengan jalan menuju desa kami. Atau…
Aku memandangi meja kayu yang telah kuhias sedemikian rupa, sehingga imej meja usang sudah hilang. Kugerak-gerakkan pita-pita di ujung meja, masih menunggu. Sudah satu jam aku menunggu Lay. Beruntung sekarang aku mengenakan pakaian hangat yang tebal.
Akhirnya, kukeluarkan ponselku dan menyambungkannya ke ponsel Lay. Beberapa kali terdengar nada sambung, kemudian nada sambung itu tidak terdengar lagi, dan berganti dengan suara Lay.
Annyeonghaseyo, waegeurae Eun Woo-ya?”
“Lay-ah, kau dimana?”
Aku ada di makam Naeri.”
“Apa kau melupakan sesuatu?”
Mm, apa ya? Ayolah, jangan bertanya macam-macam. Aku harus menutup telepon.”
“Tapi Lay-ah, ini—hari ini…”
“Sudahlah, Eun Woo-ya, tidak ada yang lebih penting daripada Naeri. Annyeong.”
KLIK.
“Hari ini adalah hari ulang tahunku…”
Air mataku mengalir. Kuremas erat bagian bawah sweter yang kukenakan, berusaha agar air mataku tidak terlalu banyak mengalir. Gagal. Sekali lagi, Lay menyakiti hatiku lagi.

__________

Author POV

Phone Calling: Lay~
Reject. Lagi. Lagi. Dan lagi.
Eun Woo kembali fokus pada e-mail di hadapannya yang mengisahkan tentang seorang yeoja yang selalu disakiti oleh sahabatnya—yang dicintainya secara diam-diam—namun yeoja itu tidak bisa melakukan apapun, kecuali menerima. Hampir sama persis dengan kisahnya. Bedanya, namja itu masih memiliki yeojachingu, dan Lay tidak.
Selesai mengedit yang satu ini, Eun Woo mengirimkan hasil editannya dan membuka e-mail yang lainnya. Masih ada sekitar tiga novel lagi. Eun Woo tersenyum ketika melihat siapa nama tokohnya, Lee Eun Woo. Nama yang sama persis dengannya.
“Ya, Eun Woo-ya!” Seru Ah Reum tiba-tiba, mengagetkan Eun Woo yang tengah serius. Eun Woo menatap Ah Reum dan melemparkan pandangan beracunnya. “Kau ini kenapa? Baru saja Lay meneleponku, dia bilang kau tidak pernah mengangkat teleponnya lagi.”
“Oh ya? Memangnya dia meneleponku?” Tanya Eun Woo, berpura-pura bodoh. “Mmm, mungkin aku tidak sengaja menekan tombol reject.”
“Cepat telepon dia,”
“Aku sibuk sekali sekarang. Mungkin nanti. Oke, Ah Reum-ah? Sekarang, biarkan aku berkonsentrasi lagi.”
Ah Reum menghela napas. Dia tahu ada yang Eun Woo sembunyikan. Tapi dia tidak tahu apa itu. Dengan cepat dihirupnya teh herbal di hadapannya. Kepalanya pusing. Pasti ada masalah.
Ingatan Ah Reum terbang ketika Eun Woo pulang, masih membawa kardus berisi kue tarnya, dan matanya merah dan sembap. Entah apa yang terjadi pada Eun Woo dan Lay. Yang dia tahu, sejak saat itu, Eun Woo sering melamun dan bahkan gadis itu tidak pernah sudi bertemu dengan Lay.
Ah, pasti ada sesuatu yang terjadi pada mereka berdua. Pikir Ah Reum. Tangannya segera meraih ponselnya dan menekan nomor ponsel Lay. Sedetik kemudian, terdengar suara berat dari sana.
“Lay-ah? Jangan bertanya dulu. Kau hanya perlu menjawab, oke?”
“Hmmm…” sahut Lay dengan bingung.
“Apa kau bertemu dengan Eun Woo minggu kemarin?”
“Aniya.”
“Nah, itu masalahnya.” Pekik Ah Reum tiba-tiba. Pasti Eun Woo merasa marah sekaligus terluka sekali ketika tahu bahwa orang yang dinantikannya tidak datang. “Kau kemana saja?!”
“Aku di makam Naeri. Waeyo Ah Reum-ah?”
“Jinjja!” Seru Ah Reum kesal, lalu mematikan sambungan teleponnya. Dia merasa Lay begitu egois kepada sahabatnya. Padahal, Ah Reum yakin dia mendengar dengan telinganya sendiri ketika Lay menyanggupi janji bertemu dengan Eun Woo kemarin Minggu.

_______________

Eun Woo’s POV

Apa kau pernah merasa begitu kecewa sekaligus sakit hati dalam waktu bersamaan? Mungkin tidak. Tapi aku seringkali merasakan sakit ini ketika Lay kembali membatalkan janjinya denganku. Aku tidak tahu kenapa hatiku terasa sakit, apa perasaanku masih ada padanya? Kenapa dia tidak kunjung menghilang? Apa begitu berat membuatku merasakan kebahagiaan, bahkan untuk sebentar saja? Entahlah, tapi rasanya seperti Tuhan marah kepadaku.
Hari ini, aku begitu lelah sampai memutuskan tidak berangkat bekerja dulu. Jadi pagi ini, aku langsung bersiap kembali ke desa. Mungkin tinggal bersama Halmeoni selama beberapa saat bisa membuat pikiranku jernih kembali.
Selesai mengepak barang-barangku yang tidak banyak, buru-buru aku keluar dan mencari bus jurusan desa. Lama sekali aku menunggu, ketika bus itu akhirnya sampai.

____________

Setelah setengah jam perjalanan dengan bus yang super-duper membosankan. Beruntung aku tidak melupakan I-Podku yang berharga. Dan, well, sekarang aku terpaksa berjalan kaki menuju bawah bukit—tempat Halmeoni berada.
Udara hangat, aku akhirnya melepas sweterku dan menalikannya di pinggang. Agak sedikit berat, mengingat itu adalah sweter tebal dari wol. Aku menatap keadaan sekitar, kemarin—sebelum Naeri meninggal—aku nongkrong di desa ini. Tapi rasanya sekarang berbeda, meski tujuanku sekarang dengan kemarin sama.
“Eun Woo?!” Seru seseorang, aku langsung berbalik dan mendapati bahwa Lay ada disini, di dekatku. “Sedang apa kau disini?”
Well, bukannya seharusnya aku yang bertanya begitu?” Sindirku sambil menatapnya yang menenteng-nenteng SLR-nya.
“Oh ya. Tapi beberapa kali aku kesini,” sahut Lay sambil membidikkan kameranya kearah pemandangan di belakangku. (Semoga wajahku tidak kelihatan!)
“Uhmm. Ya sudah, silakan lanjutkan acara memotretmu,” ujarku sambil buru-buru menjauh. Rasanya aku masih sedikit sakit hati dan kecewa padanya. Bisa-bisanya dia masih bisa berkata kepadaku seakan dia tidak mempunyai kesalahan!
“Aku ikut. Kau mau kemana?”
“Aku mau pulang ke rumah Halmeoni. Kau benar-benar mau ikut?” Semoga tidak.
“Tidak apa-apa. Aku sedikit kelaparan,”
Aku menghela napas dan mengangguk. Gagal sudah rencanaku menjauh darinya. Kami berjalan bersama di sepanjang padang rumput yang terhampar. Beberapa kali aku mendapati moncong SLR-nya menghadap ke arahku. Tapi aku tidak berani memarahinya. Bisa saja dia memotret pemandangan di belakangku dan bukannya aku. Jadi, pasti memalukan jika aku memarahinya tiba-tiba.

___________

Lay POV

Lucu sekali!
Beberapa kali aku memotret wajah Eun Woo yang sedang fokus pada jalanan di depannya. Sepertinya dia tidak menyadari itu karena dia sama sekali tidak marah dan membentakku. Tapi, rasanya ada yang berbeda dengannya. Sepertinya, dia sedikit menciptakan jarak denganku.
Ada apa? Aku tidak merasa memiliki salah dengannya.
“Ayo, sudah sampai. Ayo masuk,” ajaknya tiba-tiba ketika kami melewati rumah kayu di kanan jalan. Rasanya aku masih ingat rumah ini. Memang, dulu kami sering bermain bersama disini.
Aku hanya mengangguk dan akhirnya melepas sepatu kemudian masuk ke dalam. Bau daging tercium sampai di depan. Mungkin Eun Woo sudah memberitahu neneknya jika dia akan datang.
“Annyeonghaseyo, Halmeoni…” sapa Eun Woo sambil menyibak kerai dari kain yang lembut.
Seorang wanita tua, yang cukup kukenal wajahnya keluar dengan mata berbinar-binar. Pasti ini nenek Eun Woo. Aku memang sering melupakan wajah-wajah yang sudah lama tidak kulihat. Bahkan saat itu, aku hampir melupakan wajah Eun Woo. Memang aneh, tapi bahkan dokter tidak dapat mendeskripsikan alasannya.
“Eun Woo-ya, kau membawa pulang Yi Xing?” Tanya Halmeoni sambil menatapku.
Well, apa Halmeoni sedang menyindirku? Dia bahkan masih ingat dengan jelas padaku, sementara aku tidak. Lagipula, sepertinya Halmeoni sudah sangat tua. Bagaimana dia bisa mengingat selama itu?!
“Annyeonghaseyo, Halmeoni.” Kataku sambil membungkuk Sembilan puluh derajat.
Halmeoni hanya tersenyum, lalu mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya. Bau masakan tercium dari ruangan depan, bahkan aku yakin Halmeoni sedang membuat sup kimchi.
Tiba-tiba, aku merasa ini adalah tempatku. Aku tidak mengerti apa sebabnya, tapi tiba-tiba aku yakin aku akan bahagia jika aku berhasil melupakan Naeri dan mulai melihat Eun Woo…

__________

Author POV

Eun Woo menatap pemandangan sekitar dengan pandangan kagum. Sudah lumayan lama dia tidak berkunjung disini. Suasana sudah banyak yang berubah, bahkan sekolah dasarnya dulu pun sudah berubah. Beberapa kali, rumput-rumput liar menyapu kakinya yang tidak tertutup karena dia sedang memakai celana pendek. Tapi Eun Woo mengacuhkannya dan tetap memandang kagum. Memang dia sering kesini ketika kecil, tapi itu pasti sudah terjadi sekitar lima tahun yang lalu. Bahkan, dia tidak pernah punya waktu untuk berkunjung disini ketika sudah bekerja. Pekerjaan sebagai editor dari perusahaan editor terkenal membuatnya terlalu sibuk dengan dunia kerja yang memusingkan.
“Eun Woo-ya, lihat disana,” kata Lay tiba-tiba sambil menunjuk sebuah pohon lebat yang indah. Di belakang pohon itu, ada sebuah bukit tinggi yang jauh.
“Waeyo? Apakah ada hal yang—”
Klik. Kamera yang dibawa Lay berbunyi ketika empunya meng-klikkan tombol potret ke arah Eun Woo.
“YA! Cepat hapus itu!” Seru Eun Woo sambil berusaha merebut kamera milik Lay. Wajahnya pasti terlihat bodoh dan menggelikan di potret itu. Aissh, sialan!
“Andwae! Ini untuk kenang-kenangan, kameraku terlalu dipenuhi oleh potret Naeri. Aku harus memotret sesuatu yang lain,” kata Lay dengan santai sambil kembali memotret sekitarnya.
Apa itu sebuah tanda bahwa kau sudah siap untuk melihatku?! Batin Eun Woo sambil tersenyum sedih. Di lubuk hatinya, dia yakin sekali rasa itu masih ada. Bahkan sepertinya perasaan itu semakin besar saja. Gwenchana, batinnya sekali lagi. Dia masih punya kesempatan untuk mengisi hati Lay dengan namanya.

__________

“Yah, cepat sekali kita pulang.” Desah Eun Woo keras-keras ketika mereka berdua masuk ke dalam mobil Lay yang dititipkan di ujung desa.
“Ini sudah tiga hari, Eun Woo ppabo!”
“Kau yang ppabo!” Seru Eun Woo sambil memukul lengan Lay dengan kotak tisu yang ada di dasbor. “Ayo yang cepat, kita balapan dengan mobil yang di depan itu!”
“Baiklah, kalau itu maumu.” Kata Lay santai, lalu tersenyum licik dan mempercepat laju mobilnya menjadi dua kali lipat.
“Wuaaa!!” Pekik Eun Woo ketika mobil sport Lay menyalip-nyalip dengan gesit dan mengerem ketika hampir menabrak. “Haha! Ayo kita salip mobil itu!”
Lay kembali mempercepat mobilnya, ketika dia teringat satu hal.
DCIIIITTT…. Sedetik kemudian, suara rem terdengar memekakkan telinga. Mobil Lay sontak berhenti ketika Lay tidak menyalakan gas lagi dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Waeyo, Lay-ah? Gwenchana? Ayo cepat, mobil di depan sudah menjauh lagi!”
Lay merasa kepalanya berdenyut menyakitkan, dia sampai harus memeganginya supaya sakitnya sedikit berkurang. Gagal. Tidak ada yang terjadi. Dia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
“Lay-ah, gwenchana?! Ada apa?” Tanya Eun Woo lagi, kali ini terdengar khawatir.
“Aku melupakan setahun meninggalnya Naeri…” Kata namja itu dengan sedih lalu menatap Eun Woo penuh harapan. “Eun Woo-ya, bisakah kau pulang sendirian? Aku ingin pergi ke makam Naeri.”
Tiba-tiba, harapan yang kemarin begitu besar di hati Eun Woo menyusut tiba-tiba. Dia mulai bisa membaca segalanya. Bahwa kenyataannya, Lay masih belum bisa melihatnya…
Dengan air mata menggenang, Eun Woo mengangguk dan langsung keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju halte. Tepat ketika langkahnya yang kedua, airmatanya jatuh terurai begitu saja.

____________

“Naeri-ya,” sapa Lay ketika dia berjongkok di hadapan makam Naeri yang tanahnya masih sedikit basah. “Bolehkah aku bertanya kepadamu?”
Desah angin yang menjawabnya.
“Jika boleh, bolehkah aku melupakanmu?” Tanya Lay dengan pilu. “Maafkan Oppa. Maafkan Oppa…” bisiknya dengan sangat pelan. “Belum kering tanah ini, dan Oppa sudah jatuh cinta kepada orang lain. Mianhaeyo, Naeri chagi. Mianhaeyo…”

 T B C

Nantikan part selanjutnya~ ^^ 
Ghamsahamnida ^6^ 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

CRACKER Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template